Pengabdian Masyarakat (Amin Heri Susanto, Lc., M.A., Ph.D), pada 18 Juli 2022
Peranan pesantren dalam menjaga nilai-nilai moralitas dalam konteks politik, sosial, ekonomi dan budaya menjadi sangat signifikan, hal ini secara internal karena pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling efektif dan kondusif dalam proses pembentukan karakter kepemimpinan serta lingkungan yang dirasa nyaman (green boarding school) dengan pendidik professional (guru) serta perserta didik (santri) yang senantisa siap melakukan sinergitas agar nilai-nilai dalam visi pendidikan pesantren dapat tercapai dengan sempuna.
Penguatan karakter kepemimpinan politik sebagaimana termaktub dalam visi pesantren Manarul Quran adalah membentuk generasi robbani penghafal (hafidz) Qur’an dan berakhlaq mulia dan menguasai ilmu pengetahuan (Sains) yang menjadi pilar utama dalam mewujudkan pemimpin masa depan. Pesantren perlu menghadirkan pemimpin masa depan yang hafal Qur’an dan berakhlaqul karimah, sehingga diharapkan pemimpin ini mampu membawa kemaslahatan bagi ummat sebagai pemimpin yang memiliki keteladanan akhlak sebagaimana akhlaknya Rasulullah yang berdasarkan al-Qur’an (kana khuluquhu al-Qur’an.)
Karakter seorang pemimpin yang berjiwa da’i adalah mereka yang mempunyai sifat-sifat dan prinsip-prinsip yang mirip dengan seorang dai, yaitu sosok yang berusaha untuk menyebarkan kebaikan, memberikan manfaat, serta menginspirasi orang lain untuk berbuat baik. Maka diantara karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang berjiwa da’i adalah;
1. Kesabaran dan kelembutan: Dia memiliki kesabaran yang tinggi dalam menghadapi berbagai situasi. Seorang pemimpin mengerti bahwa perubahan dan pembelajaran memerlukan waktu. Maka kelembutan tindakan dari pemimpin yang berjiwa da’i senantiasa berusaha untuk bertindak dengan integritas dan kejujuran dalam segala hal yang dia lakukan. Dia menjadi teladan bagi orang lain.
2. Kemurahan hati: Pemimpin ini cenderung memiliki sifat dermawan dan peduli terhadap kesejahteraan orang lain yaitu yang senantiasa mencari cara untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Maka seorang pemimpin hendaklah memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dan efektif, baik dalam memberikan nasihat, membimbing, maupun menginspirasi orang lain serta memiliki watak keterbukaan dan kedermawanan. Dia senantiasa terbuka terhadap pendapat dan ide-ide baru, serta siap untuk belajar dari pengalaman orang lain dan memiliki kecenderungan untuk membagi pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain.
3. Ketulusan niat dan empati: Pemimpin yang berjiwa da’i bertindak atas dasar niat yang tulus dan murni, tanpa mengharapkan imbalan atau pujian dari orang lain. Sedangkan ia memiliki kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, sehingga mampu memberikan dukungan dan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan orang-orang di sekitarnya.
4. Kesederhanaan: Pemimpin ini hidup dengan sederhana dan tidak terlalu ambisius terhadap kekayaan atau kekuasaan. Jenis pemimpin ini mereka memprioritaskan kebaikan dan kesejahteraan bersama daripada kepentingan pribadi.
5. Kemampuan untuk memberi motivasi dan inovasi: Pemimpin berjiwa da’i adalah yang ini mampu menginspirasi dan memotivasi orang lain untuk mencapai potensi terbaik mereka, baik secara pribadi maupun profesional. Inovasi dan kebaruan juga senantiasa ditularkan kepada masyarakat dalam memberikan kreatifitas dan solusi dalam menciptakan kehidupan yang sejahtera.
Penguatan karakter kepemimpinan yang terus dilaksanakan dalam proses pendidikan di Pondok Pesantren Manarul Qur’an diharapkan dapat melahirkan jiwa dan sosok pemimpin politik yang mampu menjawab tantangan di era disrupsi.


