Proses tarbiyah (pendidikan) bukan hanya proses pengajaran saja di dalam kelas, tarbiyah kepada santri memiliki beberapa proses dan tahapan yang harus dilakukan oleh para murabbi sehingga mampu menghasilkan generasi yang kuat, berkarakter dan bermartabat.
pertama : Tansyi’ah (membentuk karakter) proses pertama dari pendidikan adalah membentuk karakter (character building) yaitu berupa pembiasaan – pembiasaan yang baik dan penanaman tradisi-tradisi yang luhur kepada para santri yang baru awal – awal mondok bahkan kalau perlu dengan sedikit pemaksaan dari para murabbi, seperti pembiasaan sholat berjamaah, pembiasaan baca quran, qoyamul lail bahkan pembiasaan mencuci baju rutin dan merapilan almari
Sehingga tidak herak kalau pada awal – awal pembiasaan ini banyak santri yang tidak kerasan di pondok karena masih adaptasi dalam pembiasaan tersebut. kedua adalah riayah (memelihara) artinya proses ini adalah proses menjaga dan melestarikan proses pembentukan pembiasaan yang baik yang mulai tertata pada para santri, sebagaimana tanaman yang sudah mulai tumbuh harus senantiasa dijaga dan dirawat dengan baik mulai dari penyiraman, pemupukan, pengobatan, pembersihan gulma dst, dalam realisasinya di pesantren para murabbi atau mudabbir harus senantiasa mengontrol kehidupan para santrinya 24 jam, dengan didukung oleh peraturan dan tata tertib yang memiliki muatan reward and punishment (penghargaan dan hukuman) sehingga para santri yang baik termotivasi untuk istiqomah dan santri yang kurang baik termotivasi untuk merubah dirinya menjadi lebih baik
Proses ketiga adalah tanmiyah (pengembangan) para santri secara manusiawi pasti memiliki potensi masing – masing ada yang memiliki potensi akademik, ada yang memiliki potensi seni bahkan banyak yang memiliki potensi olah raga dan masih banyak potensi – potensi santri di berbagai bidang yang siap diledakkan, maka kewajiban para murobbilah untuk mengembangkan potensi tersebut sehingga wajib bagi lembaga pendidikan untuk mewadahi hal tersebut
Baik itu masuk dalam proses belajar mengajar di kelas maupun kegiatan ekstrakulikuler di luar kelas, seperti contoh di pesantren manarul quran ada beberapa kegiatan yang diusahakan mampu menyalurkan bakat mereka mulai dari qiroah, nasyid, leadership atau kepemimpinan, kelompok santri penulis, pengelolaan sapi perah, pengelolaan koperasi dan kantin, bela diri dan santri pengelola sampah. Sehingga menghasilkan santri yang memiliki soft skill yang dibutuhkan nanti di masyarakat setelah mereka keluar dari pesantren.
keempat yaitu taujih (pengarahan) yang dimaksud dengan pengarahan adalah mengarahkan dan memberikan pandangan yang benar kepada mereka dalam mengadapi masa sesudah alumni, hal ini bisa dilakukan dengan pembekalan – pembekalan, pemilihan jurusan perkuliahan yang mereka ambil, bahkan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dibuatlah ikatan alumni sehingga setiap santri masih memiliki hubungan yang baik dengan almamaternya. Bahkan mereka siap mengabdi kembali ke pesantrennya untuk setelah menyelesaikan tugas belajarnya.
Keempat proses di atas harus berjalan dengan baik sehingga insya Allah akan menghasilkan generasi yang unggul al-jaylul mutqfawwiq. (Azn)


Barakallah semoga allah memberkahi sekolah antum
Aaaamiiin.